Idealisme Guru-Guru Muda

gambar oleh: www.imdb.com

Identitas Film
Judul Film : Teacher’s Diary
Tahun : 2014
Penulis Naskah : Ningsanon, Sopana Chaoviwatkol
Sutradara : Nithiwat Tharathorn
Produser : Jira Maligool, Chenchonnanee
Pemain : Sukrit Wisetkaew sebagai “Song”
Chermarn Boonyasak sebagai “Ann”
Sukollawat Kanaros sebagai “Nui”
Chutima Theepanart (cameo)
Wittawat Singlumpong (cameo)
Durasi Film : 01:44:38

Oleh Zahrotun Nafida*

Teacher’s Diary (2014) merupakan film Thailand yang menceritakan perjuangan 2 orang guru mengajar di daerah terpencil yakni di sekolah “Baan Gaeng Wittaya” atau “Sekolah Rumah Kapal” dalam periode yang berbeda yang mana letaknya berada di atas sungai. Di periode yang berbeda itu mereka mendidik tanpa kenal lelah, berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak di daerah tersebut agar mau sekolah.
Perjuangan mereka berawal dari kisah guru Ann yang merupakan pengajar pertama di sekolah tersebut yang sebelumnya melamar menjadi guru di sekolah yang berada di kota, namun kepala sekolah tidak dapat menerima guru Ann di sekolah tersebut karena memegang prinsip guru merupakan panutan anak didik sedangkan guru Ann memiliki tato di pergelangan tangannya dan bersikeras tidak akan menghapusnya sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi pikiran anak didik dan karenanya ia ditransfer ke sekolah rumah kapal yang berada di pedalaman untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang guru yang baik. Ia ditemani oleh guru Gigi yang pada akhirnya mengundurkan diri di tengah perjalanan (perjuangan) karena tidak mampu menghadapi kondisi lingkungan sekolah mulai dari kondisi cuaca, air, hingga penemuan mayat di sungai.
Namun begitu, guru Ann tetap bertahan karena memikirkan anak didiknya yang semuanya merupakan anak nelayan dan juga tinggal di atas sungai. Guru Ann bekerja dengan sekuat tenaga mengajar dengan segala keterbatasanya, tak ada listrik, jaringan ponsel, dihantam badai dsb. Di sana ia berusaha memahamkan kepada 7 anak didiknya akan pentingnya sekolah. Ketujuh anak ini sendiri memiliki tingkatan kelas yang berbeda, namun dajar dalam 1 kelas.
Adapun guru periode kedua adalah guru Song yang awalnya melamar menjadi guru olahraga di sekolah yang sama dengan guru Ann, namun sedang tidak ada lowongan dan kepala sekolah juga mengirim ke sekolah rumah kapal setahun setelah kontrak guru Ann selesai.
Tak jauh berbeda dengan kehidupan guru Ann di periode sebelumnya, guru Song pun masih harus berjuang untuk membujuk anak-anak nelayan untuk mau kembali bersekolah. Karena tak terbiasa hidup dengan keadaan serba terbatas, membuatnya mengalami kesulitan, termasuk saat ia merasa dibayang-bayangi cara mengajar guru Ann yang begitu melekat dalam diri anak-anak yang sekarang berjumlah 4 anak (2 orang sudah lulus dan satu lainnya keluar dari sekolah) namun akhirnya mampu bertahan, berkat buku diary yang ditemukannya di atas papan tulis dan tak lain adalah tulisan berisi cerita guru Ann mengajar di sana yang akhirnya dibaca oleh guru Song dan menjadikannya pelajaran dalam menghadapi dan mengajar anak-anak. Hingga kesemua anak nelayan tersebut lulus satu persatu.
Kisah dalam film ini semakin seru karena bukan hanya menyajikan bahasan mengenai perjuangan dalam mendidik dan mengajar di pedalaman, namun juga terselip kisah cinta antara guru Ann dan kekasihnya, Nui yang tidak senang guru Ann mengajar di sekolah rumah kapal hingga pada saat kontrak mengajar guru Ann di sekolah tersebut selesai, akhirnya ia mengajar di sekolah yang sama dengan Nui yang juga berprofesi sebagai guru. Namun kehidupan di sekolah baru pun tak berjalan begitu mulus karena guru Ann kerap ditegur oleh kepala sekolah dan kekasihnya sendiri sebab gaya mengajarnya yang sering dianggap membahayakan anak yakni dengan membawa anak-anak ke alam bebas. Di situlah kemudian konflik percintaan keduanya retak ditambah dengan masalah lain yang tak dapat dimaafkan oleh guru Ann.
Di lain sisi, guru Son sedang berusaha untuk mencari keberadaan guru Ann ke kota karena dirinya yang sudah lama terkesima dengan tulisan dan sosok guru Ann dalam buku diary-nya. Hingga pada suatu hari guru Ann datang kembali ke sekolah rumah kapal dan akhirnya saling bertemu.
Banyak sekali pelajaran bermakna yang dapat diperoleh dari film ini utamnya bagi calon pendidik & pengajar maupun yang sudah berprofesi sebagai pendidik untuk dapat memperbaiki kualitas pengajarannya, antara lain sebagai berikut. Pertama, pendidikan merupakan hak bagi semua orang tanpa terkecuali bahkan bagi warga di pedalaman suatu negara yang sudah semestinya terjamah oleh pendidikan.
Kedua, Keterbatasan (keadaan, fasilitas, dan lainnya) dalam mengajar hendaknya tidak menjadikan guru mengabdi dengan setengah hati, sebaliknya harus mampu membangkitkan anak-anak untuk bangkit dari keterbatasan tersebut menuju hidup yang lebih baik. Ketiga, seorang guru tidak cukup hanya mengajar, namun juga mendidik, harus mampu memahami karakteristik anak didiknya, tak ada batasan dalam berkomunikasi antara keduanya. Singkatnya adalah seorang guru harus mampu berperan menjadi orang tua bagi siswanya. Keempat, dalam mengajar, antara guru satu sama lain tak bisa disamakan karena setiap guru memiliki caranya masing-masing untuk menyampaikan maksud dan tujuan pembelajaran. Dengan begitu, variasi dalam mendidik sangat amat diperlukan dan tidak patut disalahkan selama ada hasil yang mampu mebuktikan.
Ya, film ini memiliki kelebihan yang mana disajikan dengan sangat baik dan mampu membuat penonton ikut hanyut dalam perjuangan guru Ann dan Song yang tak menyerah dengan keadaan meski hanya untuk mendidik segelintir anak di daerah terpencil dengan segala keterbatasannya agar setidaknya mereka memiliki mimpi bukan hanya untuk menjadi nelayan seperti orang tua mereka dalam keseharian. Pesan untuk terus berjuang demi pendidikan sangat kental terasa tersaji dalam film ini. Namun begitu, dengan segala kelebihan yang disajikan, sebuah film tentunya memiliki kekurangan, dan yang cukup jelas terlihat dalam film ini ialah alur maju mundurnya yang akan susah disadari saat awal-awal menonton. Akhir kata, tetap saja film ini sangat menginspirasi.
*Zahrotun Nafida, mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan, FIP UNNES

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *